Ramadhan

Beberapa Orang Yang Merugi Saat Idul Fitri [Part 1]

Ada rasa sedih dalam diri umat muslim ketika berpisah dengan bulan Ramadhan. Namun, selain perasaan sedih, kita pun juga harus bersyukur pada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala nikmat yang diberikan. Hingga Teman Hijab merampungkan puasa pada Ramadhan kemarin dan bisa merayakan Idul Fitri bersama dengan keluarga. Namun ternyata ada beberapa orang yang justru merugi saat Idul Fitri ini.

Gema takbir sudah berkumandang yang menandakan bahwa kita telah menyelesaikan puasa wajib di bulan Ramadhan. Tentunya Teman Hijab pun berharap semoga segala amal yang dilakukan di bulan Ramadhan diterima Allah dan bisa istiqamah setelahnya. Tetapi apa jadinya jika ternyata Teman Hijab termasuk golongan orang yang justru merugi saat Idul Fitri ini.

Simak beberapa jenis orang yang merugi saat Idul Fitri yang dilansir dari laman Rumaysho berikut ini, dan semoga Teman Hijab tidak termasuk di dalamnya : 

Orang yang belum sadar shalat fardu hingga Idul Fitri

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Jika seseorang meninggalkan shalat, maka tidak ada antara dirinya dan kesyirikan itu pembatas. Bahkan ia akan terjatuh dalam syirik.” (Syarh Shahih Muslim, 2:64)  

Orang yang belum pernah menginjakkan kakinya di masjid hingga Ramadhan usai

Padahal jika kita dalam keadaan sehat, punya penglihatan yang jelas, tidak ada penghalang untuk ke masjid tentu wajib untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan adzan tersebut.’” (HR. Muslim, no. 503)  

Orang yang memikirkan ibadah hanya di bulan Ramadhan saja

Di antara salaf, ada yang bernama Bisyr pernah menyatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390)

Sebagai umat Islam, kita diperintahkan beribadah itu sampai mati. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, bukan hanya Ramadoniyyun saja.

Orang yang merugi tidak mendapatkan Lailatul Qadar, hanya memikirkan persiapan lebaran saja dengan berada di mall-mall

Ada yang malam ke-27 Ramadan malah satu keluarga jalan-jalan ke mall di saat masjid-masjid penuh dengan orang yang i’tikaf. Sedangkan sebagian orang lainnya ke masjid sibuk mencari Lailatul Qadar. Karena di masa Nabi Lailatul Qadar pernah terjadi di malam ke-27.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901)

Keutamaan seperti ini juga rugi tidak didapatkan bagi orang yang justru sibuk persiapan lebaran dengan berada di mall, yaitu :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3).  

Orang yang menuruti anak dalam perkara maksiat untuk memeriahkan Idul Fitri

Ada yang menuruti anak dalam hal maksiat seperti memberikan alat musik, petasan, dan hal-hal mudarat serta haram lainnya juga termasuk orang yang merugi. Dari sisi petasan untuk memeriahkan hari raya, di dalamnya tak ada manfaat sama sekali. Yang ada hanya suara bising yang mengganggu orang lain.

Bermain petasan sama saja dengan membakar uang. Perbuatan ini termasuk tabdzir (menyalurkan harta untuk tujuan yang haram). Tabdzir itu termasuk mengikuti langkah setan sebagaimana disebutkan dalam ayat :

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

Lailina Qadrin, 26th Vlogger/Influencer

“True beauty is when you afford to restrain yourself for good.”


BERI KOMENTAR