Kajian Sahabat Surga “Perjalanan Hidup Manusia Dalam Al-Quran”

1 views

Inspirasihhijab.com – Sabtu, 16 Maret Sahabat Surga melaksanakan kajian rutin dan memberikan syafaat ilmu bagi para jamaah yang hadir
dan menjadi inspirasi perkembangan islam anak muda di Indonesia.
Kegiatan kajian Sahabat Surga ini berawal dari sebuah ide dan keinginan untuk menyampaikan pelajaran ataupun ilmu yang didapatkan di setiap kajian yang
diselenggarakan Sahabat Surga. Setelah berjalan beberapa waktu, kegiatan ini dinamai dengan taklim yang menjadikan ukhuwah islamiyah dan bukan hanya
menjadi teman di dunia, tapi juga bisa bersahabat di surga.

Pengajian ini dibentuk pada Januari 2019, tergolong sangat baru, namun Insya Allah dengan keinginan yang besar akan lebih banyak
menyampaikan syiar islam secara meluas. Kajian rutin ini bersifat umum dan dilakukan setiap bulan.  Dimana banyak kajian didalamnya antara lain kajian rutin umum bulanan, kajian rutin umum khusus perempuan, kajian rutin umum khusus pasangan,
dan kajian rutin umum khusus parenting.
Kajian rutin ini tentunya dapat terus terselenggara atas bantuan dari para panitia dan juga jamaah.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Afdholi Ali Rahman M.A mengkaji perihal perjalanan hidup manusia yang dijelaskan dalam Al-Quran.
Bukan seperti pada umumnya yang banyak orang ketahui, penjelasan di dalam Alquran adakalanya tidak hanya harus pahami melalui akal,
namun harus disertakan dengan keimanan kepada Allah.

 

Disebutkan dalam surat (Al Mukminun 23 : 12-16)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ  ﴿١٢﴾؅

  1. Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ  ﴿١٣﴾؅

2. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).

مَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ  ﴿١٤﴾؅

3. Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu
Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ  ﴿١٥﴾؅

4. Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ  ﴿١٦﴾؅

5. Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat.

Allah menceritakan proses reproduksi yang sejatinya sampai saat ini ilmuan tidak bisa memecahkan cara pembuatannya yang memang secara akal saja
tidak bisa terjadi,

bagaimana mungkin sperma yang belum pernah mengenal ovum tahu, bahwa ovum itu merupakan pasangannya, dimana di dalam reproduksi
wanita sendiri ada semacam zat yang dapat membunuh sperma tersebut. Betapapun canggihnya dunia digital, dan ilmu pengetahuan, ilmuan tidak akan mampu membuat yang sebanding dengan reproduksi manusia.

Sampai ketika Allah tiupkan nyawanya, Allah tuliskan takdirnya saat didalam kandungan ibunya, yang kelak Insya Allah dapat menjadi pertolongan dan syafaat bagi kedua orang tuanya.

Dalam surat An Nahl (16 : 78) diterangkan bahwa, setelah alam ruh ada alam rahim.

 

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  ﴿٧٨﴾؅

  1. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan,
    dan hati nurani, agar kamu bersyukur.

Luqman  ( 31 : 14-15)

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ  ﴿١٤﴾؅

  1. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
    yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.
    Hanya kepada Aku kembalimu.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ  ﴿١٥﴾؅

2. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu,
maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.
Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dalam surat Luqman, Allah menjelaskan betapa sangat berjasanya orangtua kepada anak, sampai hadits menyebutkan bahwa surga seorang
anak itu berada di bawa kaki ibunya, Rasul pun menjelaskan bahwa seorang ibu mendapatkan hak 3x lipat dari pada seorang bapak bagi anaknya.
Ibumu, Ibumu, Ibumu lalu Bapakmu,

di dalam hadits ini yang dimaksudkan adalah 3 jasa dr seorang ibu yang tidak bisa digantikan oleh bapak sekalipun, yaitu mengandung,
melahirkan dan menyusui. Allah sangat meninggikan martabat seorang ibu, namun jika ibu dan ayah kita melarang kita beriman kepada Allah,
atau memerintahkan kita untuk menyekutukan Allah, maka janganlah kita menaatinya, namu kita harus tetap baik, dan sayang kepada mereka
atas jasa-jasanya terhadap kita.

Allah menegaskan seorang anak yang durhaka bahkan tidak akan bisa mencium bau surga, apalagi memasukinya.
“Dua orangtua bisa membesarkan banyak anak, namun banyak anak belum tentu bisa membahagiakan dua orangtua” Syukuri kehadiran mereka, karena saat mereka sudah tidak ada, habis sudahlah waktu kita untuk meminta doa yang mustajab, memohon ampun, mengasihi dan membalas kebaikan mereka.

Al Qasas (28 : 77)

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ  ﴿٧٧﴾؅

  1. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia
    dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.
    Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Setelah menjelaskan alam rahim, alam dunia dan sekarang memasuki alam akhirat, dimana kelak di dalamnya, berbeda dengan alam dunia yang
kenikmatannya hanya 2, yaitu : sedikit dan sementara. Coba bayangkan ice cream, enak bila dimana satu sendok, namun bila 1 box atau lebih dari 1 box,
maka kenikmatan itu akan berkurang. Itulah kenikmatan dunia, hanya bersifat sementara dan sedikit, berbeda dengan nikmat akhirat yang abadi.
Kita akan menjadi orang yang merugi bila kita mati-matian mengejar dunia dan lalai terhadap akhirat. Sebagaimana mengejar yang sementara lalu
melepaskan yang abadi, sia-sia semua perjuangan kita.

Tujuan kita itu akhirat, dunia hanya dijadikan tempat singgah kita, bila kita tanam pahala akan berbuah surga, dan bila kita tanamkan kekufuran maka akan
berbuah siksa neraka. Dalam setiap hal yang kita lakukan tidak mungkin kita melakukan sesuatu yang bisa menguntungkan Allah, ataupun merugikan Allah.
Semua keuntungan dan kerugian itu adalah untuk diri kita sendiri. Bagian alam akhirat  merupakan bab lanjutan, dimana banyak sekali penjelasan yang lebih dalam.
Semoga Bermanfaat dan dapat memberi inspirasi kepada muslimin dan muslimah.

 

————————————————————

 

Like & Share Us On

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *